Baca Novel Online

Sin Liong memegang erat-erat lengan
sumoinya dan membiarkan dirinya diseret oleh biruang itu. Binatang itu mengajaknya
setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja
mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es
dimana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya
gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si
Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu
hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia! Sin Liong berdiri dengan
muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. "Terima kasih, kakak beruang. Kiranya
engkau malah menyelamatkan kami berdua." Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang.
"Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi
hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung tidak hilang. Marilah, suheng." "Nanti
dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang
ini." "Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..." "Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa
kita!" "Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau
mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas
semua budi, bukan Marilah, Suheng." "Tidak, sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku
selesai mengobatinya." Swat Hong menjadi marah. "Agaknya kau lebih sayang biruang betina
ini dari pada aku!" "Sumoi...!" Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas
pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu
itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan
tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia membatalkan niatnya. "Ngukkk...
nguuuuukkk...." Beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya. "Ahhh, Enci
(Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat
hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau
yang terancam bahaya maut oleh lukamu?" Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari
daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia mencari pulau yang
masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya
terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau
kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu,
didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang amat sukar,
dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di pulau kecil itu,
mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh. Pada suatu hari dia melihat
sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali.
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 91
Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu
sebagai sebuah di antara perahu pulau es. Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,
pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah biruang hitam itu sembuh
benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tibatiba
beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya. "Heii, kakak beruang,
kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!"
"Nguuuk...nguukk...!" Beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti
orang menangis! Sin Liong tersenyum. "Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!"
Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, biruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini
mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap
seekor anjing yang kegirangan. "Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali
sumoi!" kata Sin Liong. "Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan
karena kau telah sembuh." Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari
Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di
mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi
temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur dan binatang ini telah
jinak benar-benar. Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya
Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka,
dia menyaksikan suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar
kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil.
Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan
perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya
patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di
pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka? Ternyata bahwa seperti juga
pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari
pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air
juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya
yang tidak keburu lari ke tempat tinggi, diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap,
pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah
perahu besar terdampar di tepi pantai.Perahu itu adalah perahu bajak laut! Setelah air
menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka
itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai
mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka
mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di
sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce. Kepala bajak ini adalah seorang
laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang
lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih
menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka
berperahu, dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan namanya adalah
Koan Sek. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai
dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga, mereka tentu tidak
merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang
Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat
yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang
ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akat tetapi karena pulau dimana perahu
mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka
menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah
pulau. Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan
mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan
ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andaikata mereka itu berani menyerbu
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 92
pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan
sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang akan
dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu. Dapat dibayangkan betapa heran dan
girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat
pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah
menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan
dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa
berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut
dengan gembira. mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja.
Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua
puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani
menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat! Terjadilah
perang tanding yang seru dan matimatian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun
bukan orang-orang biasa melainkan penjahatpenjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga
rata-rata pandai ilmu silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang
sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang
ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri adalah seorang
ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras.
Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka,
Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang
dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu
marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu
merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka,
mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan
dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit
sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian
besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu. Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw
Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw
Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang
datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan
bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi! "Keparat...!" Kakek itu
meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan Soan Cu segera memegang lengan
kakeknya, membantunya untuk rebah kembali. "Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang
keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu." Ouw
Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun,
apalagi bertempur. "Hati-hatilah, Soan Cu..." Dia percaya akan kepandaian cucunya yang
tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu.
Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah bertanding
mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang wanita Pulau Neraka
digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang lakilaki
itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah
sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan,
pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh
dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya,
menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang
bajak tadi. Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak,
Tok-gan-hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat
mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah
segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu
terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 93
menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu. "Lepas tulang ikan!!"
Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat
mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan
pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu.
Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang. Dara ini
memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah
terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun maka dia tidak
terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai
pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan
begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening. "Aihhh...!" Dia
berseru nyaring, lebih merasa heran daripada khawatir. Dara ini tidak tahu bahwa lawannya
menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut
yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari
binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang
dipakainya. "Sute, tangkap nona manis ini...!" Teriak Koan Sek dengan girang. Akan tetapi
tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main.
Dua orang bajak yang mendengar suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan...
mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya yang
menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang
lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus! Sin Liong yang datang
bersama biruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas pedang dari tangan dara itu
dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di
punggung biruang, lengan kiri memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya
karena dara itu telah menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara itu
sambil beseru "Kakak biruang, lawan mereka yang berani mendekat!" Biruang itu
menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang
yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini
dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan
mencengkram kepala Coa Liok Gu. Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh,
membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan biruang itu menyambar
lawan, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata
biruang itu. "Cringgg...!!" Pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke
belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar biruang setelah pedangnya ditangkis
oleh Sin Liong tadi. "Siuuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah
bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung biruang hitam dengan kecepatan
kilat dan dengan tenaga dahsyat. "Cringgg...! Tranggg...!!" Dua kali senjata berat itu ditangkis
oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya
hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih. Pada saat dia terbelalak dan terheran,
biruang itu sudah membalikan tubuh dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala
bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan biruang itu
sudah menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya. "Kakak biruang, jangan ...!" Sin
Liong membentak. Biruang itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat
dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang. Dia dan pembantu utamanya,
Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang biruang itu
membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun pedang masih berada di tangannya,
Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang karena dia maklum bahwa selain biruang raksasa
itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Sin Liong merasa
bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu. "Hentikan pertempuran...!" Dia
berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah
orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk. Tiba-tiba
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 94
terdengar suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu segera disusul suara
berdengungdengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong
ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang,
kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah
digerakan oleh suara melengking iru, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih
datang pula beterbangan! Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung biruang
dan kini biruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah
mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya. "Uhhh... apa yang terjadi...?" Soan Cu
mengeluh dan siuman dari pingsannya. Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega.
"Bagaimana lukamu?" "Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang
berbisa itu?" Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong. "Cepat pergunakan obat penolak
ini..." Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan
obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan biruang betina, Soan
Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu...aku membutuhkan obat
penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...." Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali
tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata
rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat
kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya terbelalak ketika
melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa.
Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan
menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi
dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong. Pemuda ini tadi melepaskan
pedangnya, melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya,
membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan
sebelumnya Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh
pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja.
Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam
lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu. Koan Sek menggigil. Selain dia maklum
betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar
lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka
telah mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu
menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya.
Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat
mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung karena tidak tahan
menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh. "Cepat bertindak, halau mereka, Soan
Cu!" Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu
adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Soan Cu
menggeleng kepala. "Tak mungkin. Mereka digerakan oleh suara melengking itu..." "Suara
apa itu? Siapa yang membunyikan?" Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan
rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. "Siapa lagi? Satusatunya
orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong... augghh ..." Dara itu roboh
pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong. "Aduh celaka..., binatang-binatang itu...." Tok-ganhai-
liong Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana
pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebahlebah
putih yang mengeroyoknya. "Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami
nasib yang sama," Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak.
"Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini." Koan Sek memandang dan
matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacammacam warnanya
itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang
terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik,
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 95
mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat
betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa
pembantunya yang juga merupakan sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok
banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan
dia menjatuhkan diri berlutut! Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang
terjadi disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat
dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para bajak seperti
itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana
datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. pula, mana mungkin dia berani meninggalkan
Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak? Maka pemuda ini merasa seperti
disayatsayat jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa dua
puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolonglolong,
akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang
disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa
yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka! Kemudian tampaklah Ouw
Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan
susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu
dia meniup sebatang alat tiup terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil.
Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka
segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini binatang-binatang
itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah merobah suara tiupan
sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya mayatmayat dua puluh empat orang bajak dalam
keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam
pertempuran. "Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong Ek dituntun
anak buahnya datang mendekat. Sin Liong mengerutkan alisnya. "To-cu, engkau sungguh
kejam, membunuh mereka seperti itu." Kakek itu terbelalak. "Aku? kejam? Dan mereka
ini...?" Dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. "Dan...hei, siapa dia ini? Ah,
bukankah dia ini pemimpin mereka?" Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri
Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat. "Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak,
akan tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!" "Soan Cu...!" Ouw Kong Ek
memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan
itu. "Mengapa dia?" "Terkena senjata beracun." Kemudian dia memandang Koan Sek dan
membentak, "hayo kauberikan obat penawar senjata gelapmu!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek
adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia kang-ouw,
maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga
sutenya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan
tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali
keberaniannya dan dia tersenyum. "Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah
ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jerih sekali
menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu. "Kau
belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya." Dia menuding kepada
Ouw Kong Ek. "Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat
penawarnya." "Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya
kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya seperti iblis pula!
Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka
Nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku
dalam cengkraman kalian!" "Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw
Kong Ek membentak. "Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati
setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu. Kalau
orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini,
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 96
apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah aku mati ditemani oleh
dara remaja ini!" Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling
batang alang-alang itu hancur di tangannya. Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin
Liong Berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan
ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah
kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun juga , nyawa Soan Cu
jauh lebih berharga dari pada kehidupan seorang sesat seperti dia." "Ha-ha-ha , itu baru
omongan yang tepat!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa "mendapat angin" berkata
dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Es berada
di tangannya. Apalagi yang ditakutinya? "Iblis keparat! Hayo kauberikan obat untuk cucuku
dan kau boleh minggat dari sini!"Ouw Kong Ek membentak. "Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hailiong
Koan Sek bukan seorang tolol." Dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda
apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?" Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia
mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan
kalau ada yang dipercaya di situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini. "Aku bukan
penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau Es...." "heeeehhh...??" Mata Tokganhai-
liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah
dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana
semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku
datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng
tahyul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah
pengalaman dari rohnya? "Pulau... Pulau... Es...?" Dia berkata lirih. Sin Liong mengangguk
tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini
menjadi termangu-mangu seperti orang sinting. "Kalau begitu, aku hanya mau memberikan
obat penawar jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka
ini." "Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?" Ouw Kong Ek membentak dan para
pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam. "Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati
bersama dia ini." Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada
kakeknya, kemudian berkata, "ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap
sediakan perahu untuknya." Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakan kapalanya memberi isyarat
kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik.
Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi
laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari
dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah
kering. "Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati
kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak, lalu minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh." Sin
Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi
tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia
menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil
berkata, "Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air,
kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku
menunggu di sini." Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau,
sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang. "Kau tidak mau
membiarkan aku pergi?" Koan Sek bertanya penuh khawatir. "Jangan tergesa-gesa," jawab
Sin Liong. "Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan
membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?" Koan Sek menghela napas dan
menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan
menang. "Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?"
Sin Liong diam saja. Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi
pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dari Pulau
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 97
Es?" Sin Liong mengangguk. "Dan siapa namamu?" "Kwa Sin Liong. Mengapa engkau
bertanya-tanya?" "Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..."
"Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng..." Sin Liong berkata sambil merenung
jauh membayangkan keadaan Pualu Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal
menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan. "Nguuk... nguuukkk..." Sin Liong menoleh
dan tersenyum "Eh, Enci biruang. Kau menyusulku?" Biruang itu menghampiri, dan
memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.
"Binatang yang hebat!" Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti
bukan manusia biasa ! dan mempunyai binatang peliharaan seperti itu! "Kau bilang tadi...
tinggal dongeng apa maksudmu?" "Tidak apa-apa, lupakanlah," kata Sin Liong sambil
mengelus biruang yang sudah bertiarap di depannya. "Orang muda she kwa... eh, Tai-hiap...
kenapa kau mau membebaskan aku?" Sin Liong mengangkat mukanya memandang dan
kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama
sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya? "Mengapa tidak? engkau
pun membebaskan Soan Cu." Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang
berlari-lari. "Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!" Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek.
"Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau
ini." Koan Sek menjawab, "Terima kasih. Satu kalipun sudah cukuplah!" Dia mengkirik.
"Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?" Dia lalu menggerakan dayungnya
dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka. Ketika Sin Liong bersama
biruangnya tiba kembali ke tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali
dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh
Kong-kongnya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang
bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw
Kong Ek dan Soan Cu. "Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami, "kata Ouw
Kong Ek. "Kalau engkau tidak segera datang entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah
mati, Sin Liong," kata Soan Cu dengan mata bersinarsinar penuh kagum dan terima kasih.
"Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini
sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama
seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?" Soan Cu
dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek
terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidaksenangan hati kakek itu,
maka dia menarik napas panjang dan berkata, "Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukanbukan
terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut
pautnya dengan Sumoi." "Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di
sini?" Sin Liong mengangguk. "Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena
puterinya pernah ditahan di sini." "Bukan hanya marah-marah!" kata Soan Cu mengepal tinju.
"Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi
dia memukul semua orang!" "Kau juga dipukulnya?" Sin Liong bertanya. "Tadinya, melihat
aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat
kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan
tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan
menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!" Sin Liong menarik napas panjang.
"Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada
lagi sekarang, telah musnah." "Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?" kakek itu bertanya,
terbelalak. "Apa yang telah terjadi?" Soan Cu juga bertanya. "Dilanda badai... habis
seluruhnya, semua penghuninya termasuk suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi
kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..." Sin Liong lalu menuturkan dengan
singkat malapetaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia
dan Sumoinya terluput dari bencana. Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 98
kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha!
Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami orang-orang buangan yang dianggap
berdosa, dianggap dikutuk tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat, sedangkan
penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja
musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak,
engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!" Kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar
sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis. Mengapa Taihiap
sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?" Sin Liong lalu
menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong
yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi
bungung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di
permukaan laut sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan
biruang hitam. "Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena
disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati biruang." Sin Liong menutup
ceritanya, tentu saja dia segera menceritakan kemar ahan Swat Hong kepadanya. "Apakah
dalam beberapa hari ini dia tidak dantang ke sini?" Soan Cu menjawab, "Untung saja dia tidak
datang, Sin... eh, Taihiap." "Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu, bersungkan
kepadaku dan menyebut Taihiap segala?" "Biarlah, Taihiap," Kata Ouw Kong Ek. "Tidak
pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan
pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali." "Kaukatakan tadi untung Sumoi
tidak datang ke sini, mengapa?" "Andaikata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak
baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini,
Kong-kong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka
kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik." Sin Liong
mengangguk-angguk, merasa lega bahwa sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau
Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu ke mana
sumoinya yang pemarah itu kini berada! Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan
mengapa mengacau ke sini?" tanyanya. "Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar
mereka terdampar di tepi pulau." "Agaknya mereka juga diamuk badai." "Mungkin." Soan Cu
melanjutkan. "Kami diserang selagi kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari
pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar menyambut mereka, akan tetapi
karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau
tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap." "Akan tetapi akhirnya, biarpun
sakit, Kong-kongmu dapat membunuh semua bajak laut itu." Sin Liong bergidik ngeri
mengenangkan kematian para bajak itu. "Ugh-ugh....!" Kakek itu terbatuk-batuk. "Bajakbajak
macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau
para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatangbinatang
Pulau Neraka bersembunyi ketakutan diamuk badai, mana mereka mampu masuk?
Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi
Taihiap." "Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan
lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?" jawab
Sin Liong. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut
di depan Sin Liong! Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek
itu dan berkata, "Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada
keperluan apakah? katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin." Sin Liong
berkata dengan hati tidak enak, mengira akan menghadapi hal yang sulit. Setelah duduk
kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih
kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, "Kwa-taihiap, aku sudah tua dan
tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di
Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 99
karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas
dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan
lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan
sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia
ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan
tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap." Sin
Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! "Akan
tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatangkara yang
tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa
akan jadinya dengan diriku ini." "Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana
saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai
saudara, atau kalau mungkin.... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah
merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini." Sin Liong merasa sukar
untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu
dan berkata, "Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia
suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan
bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan
sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apapun
juga." "Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini, hanya
karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku
meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapapun juga, aku akan pergi
dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kong-kong akan merasa lebih aman, dan
juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu
merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap."
"Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya." "Kalau begitu, mari kita mencari berdua,
siapa tahu dalam mencari Sumoimu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku." Setelah
mendapat banyak pesan dan melihat Kong-kongnya, membawa pula bekal berupa pakaian dan
sekantung emas simpanan Kong-kongnya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong
meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun
itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau, maka setelah perahu meluncur jauh dan dia
hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka
yang mengantarkanya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air
matanya. "Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu,
masih belum terlambat untuk kembali," kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak
sekali memikul kewajiban ini. Biarpun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia
dibebani keselamatan dara ini, dan kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan
menjadi lebih pusing lagi! "Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa perih hatiku meninggalkan
tempat yang sejak kulahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya
Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggakan pulau itu, terasa olehku bahwa
disitu adalah sorga." Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi.
Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya,
membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga maupun neraka itu berada dalam hati
manusia itu sendiri! Betapapun indahnya suatu tempat kalau tidak berkenan di hatinya, akan
merupakan neraka, sebaliknya betapapun buruknya suatu tempat kalau berkenan di hatinya
akan menjadi sorga! Jadi, baik buruk, senang, susah, puas kecewa, semua ini bukan
ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri.
keadaan di luar merupakaan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan
dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk,
dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu. Bahagialah orang yang dapat menghadapi
segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti APA ADANYA,
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 100
tanpa penilaian. tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena
bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu
keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentanganpertentangan itu.
Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus, ujung depannya yang
meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu
sudah melupakan kesedihan hatinya dan kini dara itu memandang ke depan dengan wajah
berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali
dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga
hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia rame, dan sekarang dia
sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri! Pusat
perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan pengemis Tangan Delapan) berada di lereng
Pegunungan Hen-san. Dari luar, tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan
pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu
yang tingginya hampir dua kali tinggi orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu
mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi
kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheranheran menyaksikan sebuah
rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah sekali!
Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kaipang
di lereng Hengsan! Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi
dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua, sungguhpun pakaianya selalu butut, sebutut
tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah
menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini, pakaiannya diganti dengan pakaian
tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan
dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit. Di waktu
siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis elaperan yang berkeliaran di sekitar rumah
gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia
bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima
orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit. Pat-jiu Kai-ong tinggal tinggal didalam
istananya yang mewah akan tetapi yang dikelilingi pagar bambu tinggi sehingga tidak tampak
dari luar itu bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya
yang merupakan pengawal-pengawalnya. Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh
dalam pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga
murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. para pengawal itu melakukan penjagaan
siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan kiri istana
ketua mereka. Adapun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar
luas di kota-kota. Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama
besar Kai-ong, para anggauta itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar
dan sebagian dari pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah
membuat raja pengemis menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali. Selosin orang
pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan
mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran! Pat-jiu Kaiong
sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya
urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat
menyenangkan hatinya itu. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula
memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib karena dia pada waktu itu ingin cepat-cepat
menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoatsut
(Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sintong, tentu dalam
waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna. Akan tetapi karena seperti diceritakan di
bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es,
maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 101
darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan
tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang
bocah! Pada suatu hari , pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan
kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di
dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu
embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan
bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis. "Hemm, siapakah
pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?" Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.
Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang
itu dan terutama sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang
kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya
tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang "sahabat lama."
Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kaiong
memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat
cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah
kakak beradik, pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau
empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang
muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andaikata dia tidak
menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika
mendengar kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum
begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio,
ha-ha-ha! Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal
kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di
depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana
berwarna kuning, dengan kepala yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang
berwarna kuning pula. Kakek itu tertawa lagi. "Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau
telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lusan ini?" "Ahhhh...!" Pat-jiu Kai-ong
tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. "Kiranya
sahabat Bu yang datang? maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak
mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpi. Jadi ini kedua
anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani, bahkan
kalau tidak salah, anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!"
Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah
merah. "Harap Pangcu sudi memaafkan saya." "Aih-aih...! Ini tentu orang tua lusan ini yang
mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!" "Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang
Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?" Kakek itu
berkata. "Wah, jangan berkelabar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. marilah
masuk, kita bicara di dalam." Pat-jiu-kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya
muncul. "lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik
untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang puteraputerinya!"
Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong menggandeng tangan kakeknya itu,
sambil tertawatawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja
dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah. Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi
keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, "Sungguh hebat! Lama sudah aku
mendengar bahwa Pat-jiu-kai-ong tinggal disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di
sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!" Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong
merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main
melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu. "Ha-ha, kau terlalu memuji,
sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan meneriama kehormatan
kedataangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 102
puterinya yang begini elok." Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira
membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat
dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak,
lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san, dan di sana dia
bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera puterinya. Sepuluh tahun yang lalu,
setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di
sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat.
Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal
ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan
menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak
melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut. Karena hatinya yang penasaran mengapa
dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran
tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam itu, dia terlampau terburu-buru dan
akibatnya, hawa mujijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan
hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lusan.
Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya
menjadi khawatir sekali. Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san
Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia
enam dan lima tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong
Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu
Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san. Di
situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh . Selama satu bulan berada di Lusan,
raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia
merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat
baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san
Lojin, biarpun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan
tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu. Di lain pihak, ketika
mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lusan
Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya
terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah
sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu. "Sungguh aku
tidak tahu diri dan tidak mengenal budi," setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata
kepada tamunya. "Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan
kalian yang jauhjauh datang mengunjungi aku." "Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan
begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah
sibuk dengan pekerjaan. Kamu pun hanya kebetulan saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san,
maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati Pegunungan
Hengsan mencarimu." "Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau
boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?" Lu-asn Lojin menarik napas panjang
dan menoleh kepada puteranya, memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya, Swi Liang
menganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan menunduk. Dianggap oleh pemuda ini bahwa
Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka
tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis
itu dapat membantunya . "Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan perjalanan sejauh
itu dan ternyata sia-sia belaka perjalanan kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw."
"Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari racun bumi itu, Lu-san
Lojin?" "Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan, semenjak kecil, antara Tee-tok dan aku
telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya
yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita
dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun
Bukek Siansu > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com 103
selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan tetapi
setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana, ternyata dia tidak berada di sana pula.
Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia."

Categories:

Leave a Reply